Lima Usaha Tani Beromzet Ratusan Juta

Sejatinya semua bisnis dalam sektor pertanian memliki prospek bagus untuk digarap. Pasalnya, selama masyarakat masih membutuhkan makan, maka selama itu pula bisnis pertanian masih terbuka.

Meski demikian, setiap usaha pertanian memiliki karakteristik, tantangan, dan besaran peluang yang berbeda. Selain itu, lama masa budi daya dan besaran modal yang dibutuhkan, juga mempengaruhi prospek usaha. Berikut 5 bisnis pertaian terbaik menurut Agrikita, berdasarkan semua kriteria tersebut.

Melon Camoe
  1. Melon Camoe
    Melon Camoe termasuk jenis melon ekslusif. Melon ini berbeda dengan jenis melon yang umum kita lihat di pasar. Camoe berbentuk lonjong, berkulit kuning dengan garus putih tegas tanpa jaring (net). Melon ini memiliki tingkat kemanisan hingga 14 briks, dan ditemukan di supermarket pada waktu tertentu. Harga jual Camoe ditingkat petani berkisar Rp25 ribu per kg.
    Lantaran berbeda, maka untuk mengusahakannya Camoe membutuhkan rumah kaca dengan sistem hidroponik. Sarana ini juga bertujuan memaksimalkan produksi. Dibutuhkan investasi sekitar Rp500—Rp700 juta untuk pembuatan GH beserta perangkat sistem hidroponik seluas 1.000 m².
    Meski demikian, dalam perhitungan produksi, usaha Chamoe sangat menjanjikan. Bahkan, investasi besar yang dikeluarkan, bisa dikembalikan hanya 1—2 tahun. Pasalnya, dari luasan 1.000 m², dapat diisi 36 ribu tanaman dengan hasil panen 5 ton. Jika banderol hasil panen Rp25 ribu per kg, maka petani mengantongi omzet Rp125 juta per siklus. Sedangkan per tahun, budi daya dapat dilakukan 4—5 kali, dan diperkirakan menghadirkan omzet Rp625juta.
    Sebagai catatan, pada siklus tanam ke-2 dan selanjutnya, pelaku usaha harus menyiapkan biaya produksi Rp8.000 per tanaman, karena biaya produksi pada siklus tanam pertama sudah dimasukkan dalam biaya invetasi.
  2. Ayam Pedaging
    Daging ayam bukan lagi barang mewah bagi masyarakat Indonesia. Salah satu buktinya adalah makin menjamurnya warung pinggir jalan yang menawarkan menu pecel ayam, ayam goreng, atau ayam bakar. Harga daging ayam pun relatif terjangkau ketimbang daging sapi. Apalagi jika hari besar datang, macam Lebaran, demand daging ayam sangat tinggi.
    Karena itu pembesaran ayam pedaging sangat berprospek. Siklus usahanya pun singkat, yaitu hanya 30—36 hari. Sekali panen, usaha ini menawarkan omzet hingga Rp30 jutaan dengan populasi ayam 5.000 ekor. Analisa usaha sederhanaya adalah sebagai berikut.
Ayam Pedaging

Analisis Usaha Pembesaran Ayam Pedaging Populasi 5.000 ekor
Dengan Sistim Mandiri

I. Investasi*)
Hal Banyak Harga Satuan Jumlah
Biaya pembuatan kandang Rp65.000.000

II. Biaya Operasional
DOC 5.000 Rp5.000 Rp25.000.000
Pakan 15 ton Rp5.000 Rp75.000.000
Obat dan vitamin Rp 2.000.000 +
Rp102.0000.000
III. Invetasi + Biaya Produksi
Rp 65.000.000 + 102.000.0000 = Rp 167.000.000

III. Hasil panen per siklus
Rp18.000 x 1,5kg x 5.000 ekor**) Rp135.000.000

IV. Keuntungan per siklus
Rp135.000.000 – Rp 102.000.000 =Rp33.000.000**)

*)Lahan milik sendiri
**)Asumsi tingkat kematian ayam 0%).
***)Belum dikurangi biaya tenaga kerja dan listrik

Sebagai catatan, peternak juga bisa melakukan usaha ini melalui pola kemitraan dengan pabrikan. Umumnya dalam pola tersebut, pihak inti (pabrikan) akan menanggung biaya operasional selama masa budi daya. Setelah panen tiba, biaya operasonal akan dipangkas dari hasil panen. Model kemitraan memudahkan peternak memasarkan hasil panen, lantaran pihak inti akan menampung semua hasil panen. Sementara harga jual, umumnya menggunakan sistem kontrak yang disepakati sebelumnya.

3. Jagung Manis
Hampir semua hidangan nusantara menggunakan sayuran ini. Contohnya saja sayur bayam, sayur asem, sayur lodeh, perkedel jagung, dan salad. Begitu juga penganan seperti jagung rebus, jagung bakar, bakwan, dan cake. Bahkan kini ditemui jagung manis pipilan (cup corn), Jasuke (jagung, susu, keju), ice cream, dan jus jagung manis.
Dengan variasi menu berbahan jagung manis yang beragam, permintaan jagung manis ditaksir terus meningkat. Apalagi usaha katering, franchise jagung pipilan, dan restoran kian bertambah dimana-mana.
Tingginya kebutuhan jagung manis, terlihat dari distribusi pasar induk Kramatjati Jakarta. Setiap hari rata-rata pasar ini menyerap 75—100 ton jagung manis. Selain sebagai bahan pangan, jagung manis juga dipakai oleh industri untuk membuat sirup, gula jagung, maizena, minuman, susu, dan lainnya. Kebutuhan untuk industri ditaksir 6—7 juta ton per tahun.
Dari analisa usaha, bisnis ini menggiurkan. Biaya produksi per hektare hanya Rp5—8 juta. Angka tersebut di luar sewa lahan. Sementara tiap hektare didapat 20 ton panen, dengan harga jual Rp2 ribu—Rp4 ribu per kg. Jika menggunakan harga Rp2.500 per kg, maka omzet yang didapat mencapai Rp50 jutaan.
Cara bertanam jagung manis juga tidaklah serepot cabai atau tomat. Jagung manis lebih sederhana dan “tahan banting”. Sementara siklus tanamnya hanya berlangsung 75 hari.

Jagung Manis

Ananlisa Usaha Jagung Manis (1 hektare)

Biaya Produksi
Benih 8 bungkus x Rp 300.000 = Rp 2.700.000
Pupuk dan obat = Rp 1.300.000
Alat-alat = Rp 500.000
Tenaga kerja = Rp 2.500.000
Lain-lain = Rp 500.000+
= Rp 7.500.000
Pendapatan
20.000kg x Rp 2.500 (harga normal) = Rp50.000.000

Laba
Rp20.000.000-Rp7.500.000 = Rp42.500.000

Catatan:
 Hasil panen dianggap 100% baik
 Lahan dinggap milik sendiri/tidak sewa
 Harga jual adalah harga normal, saat tertentu bisa lebih tinggi, bisa juga lebih rendah
Sumber: berbegai sumber

4. Tomat Cery

Tomat cherry berukuran kecil, dan banyak digunakan untuk salad. Di tingkat petani harga tomat cery mencapai Rp 18ribu—Rp20ribu per kg. Pasar modern dan restoran adalah lokasi jual dari jenis tomat ini banyak diperdagangkan.

Tomat cery mampu menghasilkan panen 3—5 kg per tanaman, dengan siklus tanam yang berlangsung selama 6 bulan hingga panen selesai (panen pertama umur 3 bulan). Investasi tomat cery membutuhkan anggaran Rp1juta per m² untuk pembangunan GH besi dan sistem hidorponik (termasuk biaya produksi siklus pertama). Sementara skala usaha menguntungkan bagi bisnis ini yaitu 500—600m². Artinya dibutuhkan modal sebesar Rp500 jutaan untuk penanaman pertama.

Dari luasan tersebut akan mampu ditanami 2.500 tomat cery, dan tiap tanaman menghasilkan panen 5 kg per siklus. Artinya, omzet yang didapat mencapai Rp250jutaan per siklus. Sementara biaya produksi untuk siklus ke-2 dan seterusnya yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp10 ribu per tanaman, atau sekitar Rp25 juta untuk 2.500 tanaman.

5. Lele
Sama seperti ayam, warung tenda yang menjajakan menu pecel lele jumlahnya terus bertumbuh. Kondisi itu menjadi gambaran betapa terbukanya pasar bagi lele. Untuk Jabodetabek saja, permintaan lele ditaksir lebih dari 100 ton per hari.
Jika tertarik mengusahkan lele, Anda bisa memulainya dengan membangun kolam seluas 100m². Ongkos pembuatan kolam model tanah tersebut ditaksir sebesar Rp2—4 juta. Biaya selanjutnya pembelian bibit dan pakan. Untuk kolam berukuran 100m², dibutuhkan bibit sebanyak 10 ribu ekor, dengan harga Rp200 per 3kor. Jadi, untuk bibit butuh dana sebesar Rp 2 juta. Sedangkan pakan, kebutuhannya 33 sak, dengan harga Rp230 ribu per sak. Total anggran kebutuhan pakan mencapai Rp7,5 juta.
Dari 1 kolam dapat dipanen 1—2 ton lele, dengan harga jual Rp15 ribu per kg. Jadi, fulus yang bisa diraup mencapai Rp30 jutaan. Lama budi daya lele berlangsung 45—60 hari.
Pola budi daya lele cukup beragam, selain menggunakan kolam tanah, ada juga yang menggunakan kolam terpal, kolam beton, dan kolam berbentuk lingkaran. Terdapat juga sistem budi daya secara bioflog yang digadang lebih efisien pakan dan dengan padat terbar tinggi.

Lele

-Bimawan Muslim-

Foto-foto : Istimewa

About agrikita

Check Also

Manfaat ‘Manis’ Dibalik Pahitnya Daun Pepaya

Berbeda dengan buahnya yang memiliki rasa manis dan segar, daun pepaya sudah dikenal memilki rasa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *